Hak Paten Tempe di Negeri Paman Sam


Artikel mengenai hak paten di negeri Paman Sam :

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya diIndonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten)

Tempe yang merupakan makanan asli Indonesia, ternyata hak patennya dimiliki negara lain. Antara lain, Amerika Serikat telah memiliki 35 hak paten yang berhubungan dengan tempe dan Jepang lima buah, sedangkan Indonesia hanya dua. Itu pun baru tahap pendaftaran belum memiliki nomor paten. Hal tersebut disampaikan oleh Tien R. Muchtadi, guru besar Teknik Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor dalam seminar “Masa Depan Industri Tempe Menghadapi Millenium Ketiga” di gedung BPPT, Senin (14/2). Bahkan kemungkinan makanan mendoan atau tempe yang diberi tepung dan digoreng yang suka berada di pinggir jalan pun sudah dipatenkan oleh negara Paman Sam. “Dalam salah satu paten disebutkan tempe yang dicelup dengan tepung lalu digoreng. Saya takut, itu mendoan atau gorengan tempe yang dijual di pinggir jalan. Kalau itu benar, bisa-bisa kalau sudah perjanjian perdagangan bebas, para tukang gorengan harus bayar, dan itu mahal,” tambah Tien.

Sumber : https://www.mail-archive.com/kebunku@indoglobal.com/msg00415.html

Setelah membaca artikel tersebut, saya berpikir “Wah bagaimana jika benar tempe yang diberi tepung lalu digoreng alias mendoan itu menjadi hak paten Amerika? Bagaimana nasib penjual tempe mendoan di pinggir-pinggir jalan, di restoran kecil, di tempat makan yang menyediakan menu tempe mendoan?” Jika benar itu terjadi, pedagang mendoan di pinggir jalan pasti kelimpungan untuk menaikan harga tempe mendoan. Pembeli pun enggan jika harga tempe mendoan menjadi mahal. Hal itu akan terjadi, karena jika sudah dipatenkan oleh Amerika berarti pedagang-pedagang kecil sekalipun harus meminta ijin dan membayar royalti. Apakah kita mau jika harga tempe mendoan harganya berkisaran dari Rp 1.000 – Rp 2.000 akan naik menjadi Rp 5.000, Rp 10.000 atau mungkin Rp 20.000 untuk satu potongnya? wah bisa jadi tempe mendoan yang tadinya makanan kelas bawah menjadi makanan kelas atas. Harganya bisa mengalahkan sepotong ayam atau daging dan mungkin mendoan akan menjadi punah karena sudah tidak aman lagi makan mendoan di negara ini karena kalau tidak hati-hati kita bisa dituntut oleh Amerika. Tentu saya sebagai warga Indonesia sekaligus orang yang menyukai mendoan tidak ingin itu terjadi.

Lalu apa ya yang akan dilakukan pemerintah Indonesia jika hak paten tempe tersebut berlaku di perdagangan Internasional?  Menurut saya pemerintah seharusnya dapat mencabut hak paten tersebut dan  menjadikannya hak paten negara kita. Kita harus memberikan bukti-bukti bahwa tempe adalah makanan asli Indonesia. Sering sekali negara kita lamban dalam mengurusi hak paten. Jika kekayaan negara kita diakui sebagai milik negara lain, barulah negeri kita heboh dan bersegera untuk mendaftarkannya ke dalam hak paten Indonesia. Seharusnya itu menjadi pelajaran bagi pemerintah dan warga Indonesia agar lebih sigap lagi untuk menjaga dan mematenkan apa-apa saja yang dimiliki oleh Indonesia.

Nah maka dari itu, sebelum mendoan ini dipatenkan oleh Amerika, pemerintah harus gerak cepat untuk mendaftarkan tempe mendoan menjadi hak paten Indonesia. Tidak hanya tempe mendoan saja, tetapi juga dengan jenis tempe lainnya.

Categories: Sharing Knowledge | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: